Agroklimatologi

Posted by Unknown on 7:04 AM with No comments


LAPORAN  TETAP
PRAKTIKUM AGROKLIMATOLOGI


OLEH
SARDIANTO
05121007125


PROGRAM  STUDI  AGROEKOTEKNOLOGI
FAKULTAS  PERTANIAN
UNIVERSITAS  SRIWIJAYA

INDRALAYA
2013


I.  PENDAHULUAN

A.                Latar Belakang
Agroklimatolgi adalah ilmu yang mempelajari tentang hubungan antara unsur-unsur iklim dengan kehidupan tanaman.Radiasi Matahari adalah sesuatu pancaran bersumber dari sinar matahari pada peristiwafotosintesis yang terjadi dalam atmosfer yang di anggap penting bagi sumber kehidupan dan sangat berpengaruh terhadap hasil produksi.
Indonesia sebagai negara kepulauan yang terletak di daerah katulistiwa termasuk wilayah yang sangat rentan terhadap perubahan iklim. Perubahan pola curah hujan,kenaikan muka air laut, dan suhu udara, serta peningkatan kejadian iklim ekstrim berupa banjir dan kekeringan merupakan beberapa dampak serius perubahan iklim yang dihadapi Indonesia. Perubahan iklim akan menyebabkan seluruh wilayah Indonesia mengalami kenaikan suhu udara, dengan laju yang lebih rendah dibanding wilayah subtropics, wilayah selatan Indonesia mengalami penurunan curah hujan, sedangkan wilayah utara akan mengalami peningkatan curah hujan. Perubahan pola hujan tersebut menyebabkan berubahnya awal dan panjang musim hujan. Di wilayah Indonesia bagian selatan, musim hujan yang makin pendek akan menyulitkan upaya meningkatkan indeks pertanaman (IP) apa bila tidak tersedia varietas yang berumur lebih pendek dan tanpa rehabilitasi jaringan irigasi. Meningkatnya hujan pada musim hujan menyebabkan tingginya frekuensi kejadian banjir, sedangkan menurunnya hujan pada musim kemarau akan meningkatkan risiko kekekeringan. Sebaliknya, di wilayah Indonesia bagian utara,meningkatnya hujan pada musim hujan akan meningkatkan peluang indeks penanaman, namun kondisi lahan tidak se baik di Jawa.
Tren perubahan ini tentunya sangat berkaitan dengan sektor pertanian.
Strategi antisipasi dan teknologi adaptasi terhadap perubahan iklim merupakan aspek kunci yang harus menjadi rencana strategis Departemen Pertanian dalam rangka menyikapi perubahan iklim. Hal ini bertujuan untuk mengembangkan pertanian yang tahan (resilience) terhadap variabilitas iklim saat ini dan mendatang.Upaya yang sistematis dan terintegrasi,serta komitmen dan tanggung jawab bersama yang kuat dari berbagai pemangku kepentingan sangat diperlukan guna menyelamatkan sector pertanian. Untuk mencapai tujuan tersebut, perlu disusun kebijakan kunci Departemen Pertanian dalam rangka melaksanakan agenda adaptasi mulai tahun 2007 sampai 2050 yang meliputi rencana aksi yang bersifat jangka pendek, jangka menengah, dan jangka panjang.
Perubahan iklim dengan segala penyebabnya secara faktual sudah terjadi di tingkat lokal, regional maupun global.Peningkatan emisi dan konsentrasi gas rumah kaca (GRK) mengakibatkan terjadinya pemanasan global, diikuti dengan naiknya tinggi permukaan air laut akibat pemuaian dan pencairan es di wilayah kutub.naiknya tinggi permukaan air laut akan meningkatkan energi yang tersimpan dalam atmosfer, sehingga mendorong terjadinya perubahan iklim, antara lain ElNino dan La Nina. Fenomena El Nino dan LaNina sangat berpengaruh terhadap kondisi cuaca atau iklim di wilayah Indonesia dengan geografis kepulauan.Sirkulasi antara benua Asia dan Australia serta Samudera Pasifik dan Atlantik sangat berpengaruh, sehingga wilayah Indonesia sangat rentan terhadap dampak dari perubahan iklim. Hal ini diindikasikan dengan terjadinya berbagai peristiwa bencana alam yang intensitas dan frekuensinya terus meningkat Fenomena El Nino adalah naiknya suhu di Samudera Pasifik hingga menjadi 31°C, sehingga akan menyebabkan kekeringan yang luar biasa di Indonesia.
Dampak negatifnya antara lain adalah peningkatan frekuensi dan luas kebakaran hutan, kegagalan panen, dan penurunan ketersediaan air. Fenomena La Nina merupakan ke balikan dari El Nino, yaitu gejala menurunnya suhu permukaan Samudera Pasifik, yang menyebabkan angin serta awan hujan ke Australia dan Asia Bagian Selatan, termasuk Indonesia. Akibatnya, curah hujan tinggi yang disertai dengan angin topan dan akibat dari itu akan menimbulkan dampak secara langsung dengan terjadinya bencana banjir dan longsor besar
Perubahan iklim sudah berdampak pada berbagai aspek kehidupan dan sector pembangunan di Indonesia. Sektor kesehatan manusia, infrastruktur, pesisir dan sektor lain yang terkait dengan ketersediaan pangan (pertanian, kehutanan dan lainnya) telah mengalami dampak perubahan tersebut. Di sektor pertanian, sama dengan sektor lainnya, belum ada studi tingkat nasional yang mengkaji dampak perubahan iklim terhadap sumber daya iklim,lahan, dan sistem produksi pertanian (terutama pangan). Beberapa studi masih dilakukan pada tingkat lokal, seperti pengkajian dampak perubahan iklim pada hasil padi dengan menggunakan model simulasi.
Kerentanan suatu daerah terhadap perubahan iklim atau tingkat ketahanan dan kemampuan beradaptasi terhadap dampak perubahan iklim, bergantung pada struktur sosial-ekonomi, besarnya dampak yang timbul, infrastruktur, dan teknologi yang tersedia. Di Indonesia, upaya-upaya mitigasi dan adaptasi perubahan iklim sebenarnya telah dimulai sejak tahun 1990,walaupun Indonesia tidak memiliki kewajiban untuk memenuhi target penurunan emisi GRK. Untuk memperkuat pelaksanaan mitigasi dan adaptasi perubahan iklim di Indonesia pada sektor pertanian,perlu ditetapkan strategi nasional mitigasi dan adaptasi perubahan iklim secara terintegrasi, yang melibatkan berbagai instansi terkait.

B.                 Tujuan
Untuk mengetahui data klimatologi pada suatu daerah yang meliputi curah hujan, kecepatan dan arah angin, kelembaban udara, intensitas panas, suhu dan temperatur.Agar dapat menganalisa penyesuaian klimatologi terhadap pertanian.



II. TINJAUAN PUSTAKA

A.                 Curah Hujan
Data jumlah curah hujan (CH) rata -rata untuk suatu daerah tangkapan air (catchment area) atau daerah aliran sungai (DAS) merupakan informasi yang sangat diperlukan oleh pakar bidang hidrologi. Dalam bid ang pertanian data CH sangat berguna, misalnya untuk pengaturan air irigasi , mengetahui neraca air lahan, mengetahui besarnya aliran permukaan (run off). Untuk dapat mewakili besarnya CH di suatu wilayah/daerah diperlukan penakar CH dalam jumlah yang c ukup.Semakin banyak penakar dipasang di lapangan diharapkan dapat diketahui besarnya rata -rata CH yang menunjukkan besarnya CH yang terjadi di daerah tersebut.Disamping itu juga diketahui variasi CH di suatu titik pengamatan. Menurut (Hutchinson, 1970 ; Browning, 1987 dalam Asdak C. 1995) Ketelitian hasil pengukuran CH tegantung pada variabilitas spasial CH, maksudnya diperlukan semakin banyak lagi penakar CH bila kita mengukur CH di suatu daerah yang variasi curah hujannya besar. Ketelitian akan semakin meningkat dengan semakin banyak penakar yang dipasang, tetapi memerlukan biaya mahal dan juga memerlukan banyak waktu dan tenaga dalam.
Hujan memainkan peranan penting dalam siklus hidrologi.Lembaban dari laut menguap, berubah menjadi awan, terkumpul menjadi awan mendung, lalu turun kembali ke bumi, dan akhirnya kembali ke laut melalui sungai dan anak sungai untuk mengulangi daur ulang itu semula.
Terjadinya sangat dipengaruhi oleh konveksi di atmosfer bumi dan lautan. Konveksi adalah proses pemindahan panas oleh gerak massa suatu fluida dari suatu daerah ke daerah lainnya. Air-air yang terdiri dari air laut, air sungai, air limbah, dan sebagainya tersebut umumnya mengalami proses penguapan atau evaporasi akibat adanya bantuan dari panas sinar matahari. Air tersebut kemudian menjadi uap melayang ke udara dan akhirnya terus bergerak menuju langit yang tinggi bersama uap-uap air yang lain.Sesampai di atas, uap-uap mengalami proses pemadatan atau biasa disebut juga kondensasi sehingga terbentuklah awan. Akibat terbawa angin yang bergerak, awan-awan tersebut saling bertemu dan membesar dan kemudian menuju ke atmosfir bumi yang suhunya lebih rendah atau dingin dan akhirnya membentuk butiran es dan air.Karena terlalu berat dan tidak mampu lagi ditopang angin akhirnya butiran-butiran air atau es tersebut jatuh ke permukaan bumi, proses ini disebut juga proses presipitasi. Karena semakin rendah, mengakibatkan suhu semakin naik maka es/salju akan mencair, namun jika suhunya sangat rendah, maka akan turun tetap menjadi salju.
Jumlah air hujan diukur menggunakan pengukur hujan atau ombrometer.Ia dinyatakan sebagai kedalaman air yang terkumpul pada permukaan datar, dan diukur kurang lebih 0.25mm. Satuan curahhujan menurut SI adalah milimeter, yang merupakan penyingkatan dari liter per meter persegi.
Dengan segala kekurangan dan kelebihannya, alat pengukur hujan ada 2 macam yaitu alat pengukur hujan manual dan alat pengukur hujan otomatik.Beberapa persyaratan yang harus dipenuhi pada saat menempatkan alat pengukur hujan yaitu :
1.                  Harus diletakkan di tempat yang bebas halangan atau pada jarak 4 kali tinggi obyek penghalang.
2.                  Alat harus tegak lurus dan tinggi permukaan penakar antara 90-120 cm di atas permukaan tanah.
3.                  Bebas dari angin balik
4.                  Alat harus dilindungi baik dari gangguan binatang maupun manusia.
5.                  Secara teknis alat harus standart.
6.                  Dekat dengan lokasi pengamat.
Air hujan sering digambarkan sebagai berbentuk “lonjong”, lebar di bawah dan menciut di atas, tetapi ini tidaklah tepat. Air hujan kecil hampir bulat.Air hujan yang besar menjadi semakin leper, seperti roti hamburger; air hujan yang lebih besar berbentuk payung terjun.Air hujan yang besar jatuh lebih cepat berbanding air hujan yang lebih kecil.Banyak orang juga lebih gemar tinggal di dalam rumah pada hari hujan. Biasanya hujan memiliki kadar asam pH 6. Air hujan dengan pH di bawah 5,6 dianggap hujan asam. Banyak orang menganggap bahwa bau yang tercium pada saat hujan dianggap wangi atau menyenangkan.Sumber dari bau ini adalah petrichor, minyak atsiri yang diproduksi oleh tumbuhan, kemudian diserap oleh batuan dan tanah, dan kemudian dilepas ke udara pada saat hujan.
Sering kali kebutuhan air tidak dapat dipenuhi dari hujan alami.Maka orang menciptakan suatu teknik untuk menambah curah hujan dengan memberikan perlakuan pada awan.Perlakuan ini dinamakan hujan buatan (rain-making), atau sering pula dinamakan penyemaian awan (cloud-seeding).Hujan buatan merupakan inovasi terbaru yang berguna agar proses jatuhnya hujan semakin banyak dan cepat. Agar hujan buatan bisa terbentuk, maka dibutuhkan awan-awan yang memiliki kadar air yang banyak dan kecepatan angin yang lambat. Apakah hanya itu saja yang dibutuhkan?Tidak hanya itu, masih banyak lagi yang harus dibutuhkan. Hujan buatan ini dibuat dengan cara menyemai awan dengan menggunakan bahan yang bersifat higroskopik sehingga proses pertumbuhan butir-butir hujan di dalam awan akan meningkat dan selanjutnya akan mempercepat terjadinya hujan. Jenis awanCumulus adalah jenis awan yang sangat bagus untuk digunakan sebagai media membuat hujan buatan. Setelah lokasi pemilihan awan-awan yang masuk dalam kriteria ditemukan, langkah selanjutnya adalah proses penyemaian. Proses ini membutuhkan media pesawat yang berfungsi untuk mengangkut bubuk-bubuk yang sudah disiapkan untuk disebar di awan-awan tersebut.Bubuk khusus tersebut terdiri dari glasiogenik berupa Perak Iodida yang berfungsi untuk membentuk es.Di dalam bubuk tersebut, dicampur pula garam dapur atau Natrium Chlorida dan urea, bahan-bahan tersebut digunakan karena seperti kandungan yang terdapat di awan.Untuk dapat membentuk hujan yang lebat, biasanya dibutuhkan bubuk khusus yang sudah diterangkan di atas sebanyak 3 ton yang disemai menggunakan pesawat terbang ke awan Cumulus selama 30 hari. Proses pembuatan hujan buatan ini juga belum mesti berhasil. Yang terpenting adalah penyebaran bibit hujan harus memperhatikan arah angin, kelembaban dan tekanan udara.



B.                 Suhu dan Kelembaban
Pengukuran suhu suatu benda dan pengukuran diberbagai tempat pada dasarnya merupakan pengukuran yang tidak langsung. Pada proses pengukuran, umumnya terjadi perpindahan panas dari tempat yang akan diukur suhunya kea lat pengukur suhu. suhu yang terbaca pada alat pengukur suhu. Suhu yang terbaca pada alat pengukur suhu adalah suhu setelah terjadi kesetaraan, suhu antara benda yang diukur tersebut dengan alat pengukur suhu. Jadi, bukan suhu benda pada saat sebelum terjadi kontak antara benda yang akan diukur tersebut dengan alat pengukur. Alat pengukur suhu disebut thermometer.Termometer pada dasarnya merupakan instrumen yang terdiri dari bahan yang perubahan sifat fisiknya, karena perubahan suhu dapat mudah diukur.Sifat fisik yang berubah tersebut dapat berupa perubahan volume gas, pemuaian logam, perubahan daya hantar listrik atau sifat-sifat fisik lainnya. Masing-masing jenis termometer akan mempunyai skala yang berbeda. Oleh sebab itu, perlu dikalibrasi dengan termometer yang dijadikan patokan (standar).Termometer yang dijadikan patokan adalah termometer tahanan platina (Platinum Resistance Thermometer) atau IPTS-68 (Lakitan, 2002).
Secara meteorologi suhu udara biasanya diukur dalam sangkar cuaca. Dalam situasi ini, yang diukur adalah suhu massa udara setinggi 1.5 meter. Tetapi tanaman menerima radiasi langsung dari cahaya matahari sehingga berbeda dari suhu sangkar cuaca.Suhu tanaman mungkin lebih tinggi dari suhu sangkar cuaca.Hal ini dapat terjadi sebagai akibat dari penguapan sejumlah air, dari pemindahan panas secara konveksi, angin dan pantulan.Disamping terjadinya perubahan suhu tanaman, suhu permukaan tanah juga berubah. Apabila transpirasi berlangsung terus-menerus, suhu permukaan daun tidak akan berubah. Perubahan suhu udara juga ditentukan oleh sudut letak daun terhadap radiasi surya yang akan menentukan jumlah energi yang diserap oleh daun tersebut. Pengukuran suhu daun dapat dilakukan dengan radiometer inframerah atau penyisipan termokopel kedalam daun (Guslim, 2007).
Suhu udara adalah keadaan panas atau dinginnya udara.Alat untuk mengukur suhu udara atau derajat panas disebut thermometer.Biasanya pengukur dinyatakan dalam skala Celcius (C), Reamur (R), dan Fahrenheit (F).Suhu udara tertinggi dimuka bumi adalah didaerah tropis (sekitar ekuator) dan makin ke kutub semakin dingin. Di lain pihak, pada waktu kita mendaki gunung, suhu udara terasa terasa dingin jika ketinggian semakin bertambah. Kita sudah mengetahui bahwa tiap kenaikan bertambah 100 meter maka suhu akan berkurang (turun) rata-rata 0,6 ˚C. Penurunan suhu semacam ini disebut gradient temperatur vertikal atau lapse rate. Pada udara kering, lapse rate adalah 1 ˚C  (Benyamin, 1997)
Suhu dipermukaan bumi makin rendah dengan bertambahnya lintang seperti halnya penurunan suhu menurut ketinggian.Bedanya, pada penyeberan suhu secara vertikal permukaan bumi merupakan sumber pemanas sehingga semakin tinggi tempat maka semakin rendah suhunya.Rata-rata penurunan suhu udara menurut ketinggian contohnya di Indonesia sekitar 5 ˚C – 6 ˚C tiap kenaikan 1000 meter.Karena kapasitas panas udara sangat rendah, suhu udara sangat pekat pada perubahan energi dipermukaan bumi. Diantara udara, tanah dan air, udara merupakan konduktor terburuk, sedangkan tanah merupakan konduktor terbaik (Handoko, 1994)
Suhu adalah ukuran energi kinetik rata-rata dari pergerakan molekul suatu benda. Panas adalah energi total dari pergerakan molekul suatu benda. Jadi panas adalah ukuran energi total, sedangkan suhu adalah energi rata-rata dari setiap gerakan molekul.Lebih besar pergerakan, maka lebih benda tersebut (Zailani Kadir, 1986).
Pengaruh suhu terhadap makhluk hidup sangat besar sehingga pertumbuhannya sangat tergantung pada keadaan suhu, terutama dalam kegiatannya. Faktor-faktor yang mempengaruhi suhu dipermukaan bumi antara lain:
1.                  Jumlah radiasi yang diterima pertahun, perbulan, perhari, dan permusim.
2.                  Pengaruh daratan atau lautan.
3.                  Pengaruh ketinggian tempat.
4.                  Pengaruh angin secara tidak langsung misalnya, angin yang membawa panas dari sumbernya secara horizontal.
5.                  Pengaruh panas laten, yaitu panas yang disimpan dalam atmosfer.
6.                  Penutup tanah, yaitu tanah yang ditutupi vegetasi yang mempunyai temperatur yang lebih rendah daripada tanah tanpa vegetasi.
7.                  Tipe tanah, tanah gelap indeks suhunya lebih tinggi.
8.                  Pengaruh sudut datang sinar matahari, sinar yang tegak lurus akan membuat suhu lebih panas daripada yang datangnya miring
Seluruh makhluk hidup dikelilingi oleh suhu dan udara. Bahkan organisme seperti yang terdapat dalam tanah yang kelihatannya terdapat pada medan lain. Sebenarnya terdapat dalam air dan udara.Organisme didalam tanah yang terdapat dalam ruangan antar partikel-partikel tanah.Dari antara kedua hal ini yakni air dan udara, masing-masing sel individu dari organisme diudara hanya bisa aktif bila dalam keadaan lembab (Kartasapoetra, 2002).
Ukuran untuk menyatakan jumlah uap air yang digunakan dalam tulisan ilmiah ini adalah sebagai berikut :
a.                  Suhu Bola Kering ( T )
Biasanya disebut sebagai suhu udara, merupakan istilah yang umum digunakan. Ketika orang menyebut suhu udara, biasanya mereka mengacu pada temperatu bola kering. Disebut suhu bola kering karena dalam mekanisme kerjanya tidak terpengaruh oleh kelembaban udara. Suhu bola kering dapat diukur dengan menggunakan termometer normal yang terkena udara bebas, tetapi terlindung dari radiasi dan kelembaban. Satuan suhu yang biasa digunakan adalah derajat Celcius (oC), derajat Fahrenheit (oF) dan satuan Kelvin (K). titik Nol pada Kelvin setara dengan 273 oC.
b.                  Suhu Bola Basah ( Tw )
Suhu bola basah adalah temperatur adiabatik yang jenuh. merupakan suhu yang ditunjukkan oleh thermometer bola basah yang terkena aliran udara. Diukur menggunakan thermometer yang terbungkus kain kasa basah. Penguapan adiabatik dari air pada thermometer dan akibat pendinginan yang ditunjukkan untuk membaca bahwa suhu lebih basah dibanding dari suhu kering di udara. Tingkat penguapan dari kain kasa yang basah pada thermometer dan perbedaan antara suhu bola kering dan suhu bola basah tergantung pada kelembaban udara. Penguapan berkurang ketika udara mengandung uap air lebih banyak. Suhu bola basah selalu lebih rendah dibanding suhu bola kering, namun akan identik dengan kelembaban relatif 100 % dimana suhu udara berada pada titik jenuh.

C.                Lama Penyinaran
Lama penyinaran surya adalah lamanya surya bersinar cerah sampai kepermukaan bumf dalam periode sate hari, diukur dalam jam. Halangan terhadap sinar matahari kepermukaan bumf terutama awan, aerosols dan kabut.Kecerahan dapat juga terganggu oleh benda-benda penyusun atmosfer lainnya. Lama penyinaran ditulis dalam satuan jam sampai nilai- nilai persepuluhan atau sering juga ditulis dalam nilai persen perhari agar lebih efisien.(Anonirn,2007)
Lama penyinaran surya adalah lamanya surya bersinar cerah sampai ke permukaan bumi selama periode satu hari, diukur dalam jam. Periode satu hari disini lebih tepat disebut panjang hari yakni jangka waktu selama surya berada di atas horison.Halangan terhadap pancaran cahaya surya terutama awan, kabut, aerosol atau benda-benda pengotor atmosfer lainnya. Lama penyinaran ditulis dalam satuan jam sampai nilai persepuluhan atau dalam persen terhadap panjang hari. Lama penyinaran surya dapat diukur dengan berbagai macam alat yang dapat merekam sinar yang mencapai di permukaan bumi sejak terbit hingga terbenam; mampu merekam dengan tepat sampai nilai persepuluh jam (6menit). Terdapat empat macam/tipe alat perekam sinar surya, yaitu : Tipe Campbell Stokes, Tipe Jordan, Tipe Marvin, dan Tipe Foster. Dari 4 tipe tersebut hanya tipe Tipe Campbell Stokes dan Tipe Jordan saja yang banyak dipakai di Indonesia (Sutiknjo. 2005).
Lama penyinaran matahari ini seringkali tidak penuh satu hari. Hal ini dapat disebabkan karena sinar matahari terhalang oleh awan, aerosol atau kabut.Intensitas radiasi matahari diartikan sebagai banyaknya atau jumlah energi dari cahaya matahari yang diterima bumi, pada luas tertentu serta jangka waktu tertentu. Satuan yang banyak digunakan adalah : kalori/cm2/menit disebut juga Langley per menit, ditulis ly/menit. Dalam atmosfer bumi terdapat bermacam-macam radiasi seperti :
a.                  Direct Solar Radiation (S) yaitu radiasi langsung dari matahari yang sampai ke permukaan bumi.
b.                  Radiation Difus (D) yang berasal dari pantulan-pantulan oleh awan dan pembauran-pembauran oleh partikel-partikel atmosfer.
c.                  Surface Raflectivity (r) yaitu radiasi yang berasal dari pantulan-pantulan oleh permukaan.
d.                 Out Going Terrestial radiation (O), yaitu radiasi yang berasal dari bumi yang berupa gelombang panjang.
e.                  Back Radiation (B) yaitu radiasi yang berasal dari awan-awan dan butir-butir uap air dan CO2 yang terdapat dalam atmosfer.
f.                   Global (total) Radiation (Q).
g.                  Net Radiation (R).
Dengan banyaknya jenis radiasi yang terdapat di dalam atmosfer berarti banyak pula alat-alat yang diperlukan untuk mengukur radiasi langsung (S).Misalnya :
1.                  Amstrong Pyrheliometer.
Pyrheliometer dipakai untuk mengukur intensitas radiasi matahari langsung (S). Pyrheliometer terdiri dari 2 bagian pokok, yaitu sensor yang menghasilkan gaya gerak listrik dan recorder yang berisi battery, galvanometer dan amperemeter. Sensor berada didalam sebuah tabung/silinder logam yang dapat diputar horizontal dan vertikal.Tabung diputar mengikuti gerakan matahari sehingga sinar selalu jatuh tegak lurus ke permukaan sensor.Pada bagian ujung/ muka tabung terdapat tutup yang dapat diputar terhadap permukaan silinder.Penutup ini berfungsi sebagai pelindung sensor terhadap matahari dan juga sebagai pemutus dan penghubung kontak listrik.
2.                  Solarimeter dan Pyranometer.
Digunakan untuk mengukur radiasi matahari total.Untuk memperoleh data intensitas matahari secara kontinue, Solarimeter dihubungkan ke sebuah alat pencatat yang dinamakan Chart Recorder yang mempunyai sifat Self Balancing Potentiometric yaitu suatu recorder yang bekerjanya berdasarkan keseimbangan antara signal (tenaga listrik yang masuk berasal dari Solarimeter dengan tenaga listrik dari power supply. Gerakan dan kedudukan pena ditentukan oleh keseimbangan kedua unsur tersebut. Dengan demikian recorder ini memerlukan tenaga listrik yang diperlukan selain untuk keseimbangan juga untuk menggerakkan pias (Chart) dan jam.Recorder ini sangat peka terutama ketika sedang beroperasi, sedapat mungkin dihindarkan terhadap getaran-getaran yang dapat mengganggu keseimbangan.
3.                  Pyrgeometer untuk mengukur radiasi bumi (O)
4.                  Net Pyrradiometer untuk mengukur radiasi total (R)

D.                 Angin
Angin adalah aliran udara yang terjadi diatas permukaan bumi, yang disebabkan oleh perbedaan tekanan udara pada dua arah yang berdekatan.Perbedaan tekanan ini disebabkan oleh suhu udara sebagai akibat perbadaan pemanasan permukaan bumi oleh matahari. Semakin besar tekanan udara maka semakin kencang pula angin yang akan ditimbulkan. Angin lokal contohnya terjadi karena adanya perbedaan tekanan udara di dua tempat yang berdekatan seperti di laut dan di darat.Ada 3 hal yang penting menyangkut sifat angin yaitu kekuatan angin, arah angin, dan kecepatan angin.
Tekanan udara dipermukaan bumi diakibatkan oleh lapisan udara yang berada pada atmosfer bumi.Semakin bertambah ketinggian suatu tempat, maka makin rendah tekanan udara. Lapisan udara pada permukaan bumi memberikan tekanan sebesar 1033,3 gram/cm2. Ini berarti pada saerah seluas 1 cm2 udara memberikan tekanan sebesar 1033 gram.Tekanan udara pada permukaan bumi oleh lapisan atmosfer adalah sebesar 1 atmosfer. Tekanan udara sebesar 1 atmosfer ini sama dengan 76 cm Hg, didalam metereologi, satuan udara yang dipakai adalah Bar.
Faktor pendorong bergeraknya massa udara adalah perbedaan tekanan udara antara satu tempat dengan tempat yang lain. Angin selalu bertiup dari tempat dengan udara tekanan tinggi ke tempat yang tekanan udaranya lebih rendah.Angin memiliki hubungan yang erat dengan sinar matahari karena daerah yang terkena banyak paparan sinar mentari akan memiliki suhu yang lebih tinggi serta tekanan udara yang lebih rendah dari daerah lain di sekitarnya sehingga menyebabkan terjadinya aliran udara. Angin juga dapat disebabkan oleh pergerakan benda sehingga mendorong udara di sekitarnya untuk bergerak ke tempat lain.
Jika tidak ada gaya lain yang mempengaruhi, maka angin akan bergerak secara langsung dari udara bertekanan tinggi ke udara bertekanan rendah. Akan tetapi, perputaran bumi pada sumbunya akan menimbulkan gaya yang akan mempengaruhi arah pergerakan angin.
Perbedaan tekanan udara menimbulkan aliran udara.Udara yang mengalir disebut angin.Udara mengalir dari daerah yang bertekanan tinggi ke daerah yang bertekanan rendah. Untuk menyatakan arah angin ditentukan dengan derajat = 0 atau 360 0 berarti arah utara, 90 arahtimur, 180 0 arah selatan, dan 270 0 arah barat.
Angin dibedakan dalam beberapa bagian, yaitu :
a.       Sirkulasi angin di bumi yaitu Angin pasat, Angin Barat dan Angin Timur
b.      Angin Muson terjadi karena perbedaan tekanan udara antara daratan dengan samudra. Angin muson dibagi 2 yaitu, Angin Muson Timur, Angin Muson Barat.
c.       Angin siklon dan Anti siklon
d.      Angin local Angin lokal dibagi menjadi 4 yaituAngin Darat, Angin Laut, Angin Lembah, Angin Gunung.
Angin dapat bergerak secara horizontal maupun secara vertikal dengan kecepatan yang bervariasi dan berfluktuasi secara dinamis. Faktor pendorong bergeraknya massa udara adalah perbedaan tekanan udara antara satu tempat dengan tempat yang lain.
Angin selalu bertiup dari tempat dengan tekanan udara tinggi ke yang tekanan udara lebih rendah. Jika tidak ada gaya lain yang mempengaruhi, maka angin akan bergerak secara langsung dari udara bertekanan tinggi ke udara bertekanan rendah. Akibat cepatnya gerakan menuruni lereng, angin menjadi pasang sehingga angin fohn memiliki sifat menurun, kering, dan panas.

E.                Solarimeter
Pengukuran panjang penyinaran dilakukan bertujuan untuk mengukur lamanya penyinaran matahari.Panjang penyinaran adalah lamanya sinar matahari ke bumi dalam satuan periode hari.Pengukuran panjang penyinaran matahari dilakukan menggunakan alat Solarimeter.Solarimeter yang umumnya digunakan yaitu Solarimeter tipe Jordan dan tipe Compbell-Stokes.
a.                   Solarimeter Type Jordan
Solrimeter tipe Jordan digunakan untuk mengukur lamanya penyinaran surya per jam.Prinsip kerja alat ini adalah pembakaran pias.Panjang pias yang terbakar dinyatakan dalam satu jam. Dalam satu hari Solarimeter ini menggunakan 2 kertas pias untuk menentukan lama panjang penyinaran.Solarimeter bekerja berdasarkan reaksi fotokimia, sinar matahari yang masuk melalui lubang sempit solarimeter bereaksi dengan Kalium ferosianida yang terlapis dalam kertas pias dalam tabung silinder di dalam solarimeter. Garam fero akan teroksidasi sehingga terbentuk noda apabila dicuci dengan akuades. Selanjutnya digunakan kertas PP untuk mengukur panjang noda yang terbentuk. Panjang noda terbentuk merupakan panjang penyinaran aktual.
Alat dipasang di tempat terbuka sehingga sinar matahari tidak terhalang oleh pohon atau benda lain. Solarimeter ini dipasang dengan tidak ada halangan ke arah timur maupun barat, karena merupakan arah terbit dan tenggelamnya matahari.Kelemahan alat ini yaitu saat interprestasi hasil pengukuran oleh orang yang berbeda dapat menunjukkan perbedaan sampai 5% lama penyinaran bulan.Solarimeter tipe Jordan pemakaiannya kurang praktis sehingga alat ini sering sekali tidak dipergunakan.
b.                  Solarimeter Type Combell Stokes
Solarimeter tipe Combell Stokes bekerja berdasarkan pemfokusan sinar matahari untukmengukur panjang penyinaran. Prinsip alat ini adalah pembakaran pias, sedangkan panjang pias yang terbakar dinyatakan dalam satuan jam. Dalam satu hari Solarimeter ini menggunakan hanya satu kertas pias. Kertas Pias diletakkan pada titik api bola lensa. Hasil  pembakaran pias akan terlihat seperti garis lurus di bawah bola lensa. Kertas pias yang tidak terletak pada titik api lensa tidak akan terbakar.
Seperti pada Solarimeter Type Jordan, Alat ini dipasang di tempat terbuka yang tidak terdapat halangan ke arah Timur matahri terbit dan ke arah Barat saat matahri terbenam. Terdapat tiga jenis pias yang digunakan pada lat yang sama yaitu, pias waktu matahari di ekuator, di utara dan di selatan.


III.WAKTU DAN TEMPAT PELAKSANAAN PRAKTIKUM

A.                Waktu
Praktikum pengamatan curah hujan dilaksanakan pada tanggal 16 April - 20 Mei 2013, sedangkan pngamatan suhu, kelembaban, kecepatan angin, chambel stokes dan solarimeter dilaksanakan pada hari jumat 31 Mei-1 Juni 2013 sore pukul 17.00 wib sampai dengan hari sabtu pukul 17.00 wib.

B.                Tempat
Praktikum pengamatan curah hujan dilaksanakan di depan laboratorium ekologi Jurusan Budidaya Pertanian fakultas pertanian Universitas Sriwijaya. sedangkan pngamatan suhu, kelembaban, kecepatan angin, chambel stokes dan solarimeter dilaksanakan di Agrotechnopark (ATP), desa bakung, kecamatan Gelumbang, kabupaten Ogan ilir, Sumatera selatan.


IV.HASIL DAN PEMBAHASAN

A.                Hasil
1.      Table pengamatan curah hujan
-          Minggu ke-1
No
Hari/ tanggal
Volume
1
Selasa/ 16 April 2013
Ml
2
Rabu/ 17 April 2013
497 ml
3
Kamis/ 18 April 2013
112 ml
4
Jum’at/19 April 2013
0 ml
5
Sabtu/ 20 April 2013
0 ml
6
Minggu/ 21 April 2013
0 ml
7
Senin/ 22 April 2013
270 ml

Total
897 ml

Rata-rata Hujan
293 

-          Minggu ke-2
No
Hari/ tanggal
Volume
1
Selasa/ 23 April 2013
0 ml
2
Rabu/ 24 April 2013
 0 ml
3
Kamis/ 25 April 2013
0 ml
4
Jum’at/26 April 2013
555 ml
5
Sabtu/ 27 April 2013
0 ml
6
Minggu/ 28  April 2013
0 ml
7
Senin/ 29 April 2013
0 ml

Total
555 ml

Rata-rata Hujan
79,28 ml



-          Minggu ke-3
No
Hari/ tanggal
Volume
1
Selasa/ 30 April 2013
0 ml
2
Rabu/ 1 Mei 2013
125 ml
3
Kamis/ 2 Mei 2013
0 ml
4
Jum’at/ 3 Mei 2013
0 ml
5
Sabtu/ 4 Mei 2013
0 ml
6
Minggu/ 5 Mei 2013
130 ml
7
Senin/ 6 Mei 2013
190 ml

Total
445 ml

Rata-rata Hujan
63,57 ml

-          Minggu ke-4
No
Hari/ tanggal
Volume
1
Selasa/ 7 Mei 2013
0 ml
2
Rabu/ 8 Mei 2013
0 ml
3
Kamis/ 9 Mei 2013
7 ml
4
Jum’at/10 Mei 2013
0 ml
5
Sabtu/ 11 Mei 2013
0 ml
6
Minggu/ 12 Mei 2013
40 ml
7
Senin/ 13 Mei 2013
0 ml

Total
47 ml

Rata-rata Hujan
6,71 ml

-          Minggu ke-5
No
Hari/ tanggal
Volume
1
Selasa/ 14 Mei 2013
42 ml
2
Rabu/ 15 Mei 2013
0 ml
3
Kamis/ 16 Mei 2013
0 ml
4
Jum’at/17 Mei 2013
0 ml
5
Sabtu/ 18 Mei 2013
0 ml
6
Minggu/ 19 Mei 2013
0 ml
7
Senin/ 20 Mei 2013
0 ml

Total
42 ml

Rata-rata Hujan
6 ml

2.      Table hasil pengamatan suhu, kelembaban, kecepatan angina, chambel stoke dan solarimeter.

No

Kelompok
Hari/
Tanggal
Waktu
(WIB)
Suhu (°C)
Kelembaban

A

CS

Solarimeter
Max
Min
BB
BK
1
1A



Jum’at/
31 Mei
2013
17.00
31
31
28,2
30,4
1691,31
-
-
2
3B
18.35
28
27,5
26,4
27,4
1691,31
-
-
3
5C
19.19
27
26
26
26
1691,31
-
-
4
2A
20.00
26
25
24
25
1691,31
-
-
5
4 Plg
21.00
26
26
25,3
25,3
1691,31
-
-
6
6A
22.00
25,3
25,3
25
26
1691,31
-
-
7
2B
23.00
25
26
25
25
1691,34
-
-
8
4C
24.00
26
25,5
25,3
25,2
1691,34
-
-
9
6B






Sabtu/
1 Mei
2013
01.00
25
15
25
26
1691,34
-
-
10
1B
02.00
25
25
26
25,5
1691,39
-
-
11
3A
03.00
25
24
36
26
1691,39
-
-
12
5Plg
04.00
24
24
24
24
1691,39
-
-
13
5A
05.00
24
24
24
24
1691,40
-
-
14
3C
06.06
24
23
23,3
23,3
1691,40
Tt
440 x 10 lux
15
1C
07.00
25
25,1
25
24,5
1691,40
T
1463 x 10 lux
16
2Plg
08.00
27,4
29
29
28
1691,40
T
693 x 10 lux
17
4B
09.00
30
30
28,2
30
1691,40
T
625 x 10 lux
18
6C
10.00
30
30,05
28,2
29,8
1691,40
T
940 x 10 lux
19
1Plg
11.00
31
29
28,4
30,4
1691,40
Tt
940 x 10 lux
20
2C
12.00
33,3
33
29,3
33,1
1691,40
T
920 x 100 lux
21
3Plg
13.00
34
33
30
33,2
1691,40
TP
788 x 100 lux
22
4A
14.00
35,5
35
30,2
34,1
1691,42
T
364 x 10 lux
23
5B
15.00
33,5
33
29,4
33,1
1691,42
T
3233 x 10 lux
24
6Plg
16.00
33
32
28
32
1691,48
Tt
63 x 10 lux
25
7A
17.00
31,5
31
31
31
1691,40
Tt
894 x 10 lux
B.                Pembahasan

Dalam klimatologi banyak sekali faktor-faktor yang memengaruhi perubahan cuaca maupun perubahan iklim. Salah satu faktor yang paling mempengaruhi cuaca dan perubahan dari iklim adalah intensitas cahaya matahari. Karena, Intensitas cahaya matahari dapat mempengaruhi perbedaan suhu. Pada daerah yang terkena matahari sangat banyak memiliki suhu yang lebih tinggi dari pada daerah yang sedikit terkena sinar matahari perbedaan suhu ini berakibat langsung kepada perbedaan tekanan. Pada daerah dengan suhu tinggi memiliki tekanan udara yang rendah dan sebliknya pada daerah dengan suhu rendah memiliki tekanan udara yang tinggi. Perbedaan tekanan udara ini menyebabkan perbedaan kecepatan angin karena angin merupakan perpindahan masa udara dari satu tempat ke tempat lain dari tempat yang bertekanan tinggi ke tempat yang bertekanan rendah.  
Iklim merupakan komponen ekosistem dan faktor produksi yang sangat dinamik dan sulit dikendalikan dan diduga terutama intensitas cahaya. Faktor intensitas cahaya mempunyai peranan yang sangat penting dalam perencanaan dan sistem produksi pertanian karena seluruh unsur iklim berpengaruh terhadap berbagai proses fisiologis, pertumbuhan dan produktivitas tanaman.
Dari data yang didapat diatas, intensitas cahaya matahari yang didapati dengan menggunakan alat solarimeter tertinggi adalah 3233 x 10 lux pada pengamatan jam 15.00 WIB yang didapati oleh hasil pengamatan dari kelompok 5B. Seharusnya, suhu yang didapat adalah suhu tertinggi dalam pengamatan satu hari ini. Tetapi suhu tertinggi yang didapat dalam pengamatan adalah pada pukul 14.00 WIB yaitu suhu maksimum 35,5° C dan suhu minimum 35° C, yaitu hasil pengamatan yang didapat oleh kelompok 4A.
Tinggi rendahnya suhu disekitar tanaman ditentukan oleh radiasi matahari, kerapatan tanaman, distribusi cahaya dalam tajuk tanaman, kandungan lengas tanah. Peranan suhu erat kaitannya dengan kehilangan lengas tanah, melewati mekanisme transpirasi dan evaporasi. Peningkatan suhu terutama suhu tanah dan iklim mikro di sekitar tajuk tanaman akan mempercepat kehilangan lengas tanah terutama pada musim kemarau.
Berdasarkan pengamatan terhadap bagian alat pengukur lama penyinaran matahari, dapat diketahui bahwa pengukuran lama penyinaran matahari dimulai dari jam 07.00 sampai jam 18.00, karena jangka waktu penyinaran matahari di hitung dalam priode satu hari
Adanya saling keterkaitan antara iklim, suhu, radiasi matahari memberikan pengaruh terhadap pertumbuhan dan perkembangan tanaman. Oleh karena itu perlu adanya pendekatan yang paling baik dalam rangka pembangunan pertanian.



V. KESIMPULAN DAN SARAN
A.                Kesimpulan
Adapun kesimpulan yang didapati dari praktikum ini adalah sebagai berikut :
1.                  Faktor yang paling mempengaruhi klimatologi adalah intensitas cahaya matahari.
2.                  Iklim merupakan komponen ekosistem dan faktor produksi yang sangat dinamik dan sulit dikendalikan dan diduga terutama intensitas cahaya
3.                  Adanya saling keterkaitan antara iklim, suhu, radiasi matahari memberikan pengaruh terhadap pertumbuhan dan perkembangan tanaman.
4.                  Suhu tertinggi didapati pada pukul 14.00 yaitu 35,5° C pada thermometer maksimum dan 35° C pada thermometer minimum.
5.                  Tinggi rendahnya suhu disekitar tanaman ditentukan oleh radiasi matahari, kerapatan tanaman, distribusi cahaya dalam tajuk tanaman, kandungan lengas tanah.

B.                Saran
Praktikan diharapkan untuk memahami dan mengetahui lebih jauh lagi alat yang di gunakan dalam pengukuran curah hujan, suhu, kecepatan angin, lama penyinaran dan kelembaban.Selain itu, alat yang di gunakan juga harus dipersiapkan terlebih dahulu.



Daftar Pustaka

Anonim, 2010. Pengukuran Lama Penyinaran Matahari, Suhu Udara dan Suhu Tanah. http://www.TP UNRAM.blogspot.com. Diakses pada tanggal 14 November
2010                                                                                                         
Guslim. 2009. Agroklimatologi. USU Press. Medan.
Handoko. 1994. Klimatologi Dasar, landasan pemahaman fisika atmosfer dan
unsur-unsur iklim.  PT. Dunia Pustaka Jaya, Jakarta.

Hanum, C. 2009. Penuntun Praktikum Agroklimatologi. Program Studi
Agronomi, Fakultas Pertanian, Universitas Sumatera Utara, Medan.

Karim, K. 1985. Diktat Kuliah Dasar-Dasar Klimatologi. Diterbitkan dengan
Biaya Proyek Peningkatan dan Pengembangan Perguruan Tinggi Universitas Syiah Kuala, Banda Aceh.

Kartasapoetra, A.G. 2004. Klimatologi : Pengaruh iklim Terhadap Tanah dan
Tanaman Edisi Revisi. Bumi Aksara. Jakarta.

Lakitan, B. 1994. Dasar-Dasar Klimatologi. PT.  Raja Grafindo Persada,
Jakarta.

Pettersen, 2006. Kapita Selekta dalam Agrometeorologi. Direktorat Jenderal
Pendidikan Tinggi

Sutiknjo, Tutut D. 2005. Petunjuk Praktikum Klimatologi. Fak. Pertanian
Universitas Kediri: Kediri.

Wisnubroto, S., 2006.Meteorologi Pertanian Indonesia. Mitra Gama Widya,
Jakarta.
Wikipedia.com, 2008. Radiasi Surya. Dikutip dari http://www.wikipedia.com.
Diakses tanggal 15 Mei 2013.


Categories: , ,